Get Adobe Flash player

Cari Artikel

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday49
mod_vvisit_counterThis week453
mod_vvisit_counterThis month13138
mod_vvisit_counterAll357421

Your IP: 54.204.95.166
Now: 2017-01-23 03:14

Jakarta, Siapa bilang minat baca semakin menurun? Menurut data, penjualan buku di Amerika justru meningkat. Association of American Publishers menyebut, tri-kuartal pertama tahun 2014 secara keseluruhan penjualan buku naik sampai hampir lima persen.

Namun, tidak semua buku diminati pembaca. Seperti diberitakan Time, rak toko buku yang benar-benar diserbu adalah bacaan untuk anak dan remaja-dewasa. Penjualan di kategori itu meningkat sekitar 22,4 persen selama Januari sampai September 2014, dibanding periode yang sama tahun lalu.

Itu didapat dari laporan Media Bistro. Sementara buku-buku remaja mencapai puncak kejayaan, fiksi maupun nonfiksi dewasa justru mengalami penurunan 3,3 persen.

Namun fakta itu tidak lantas menunjukkan bahwa orang-orang dewasa semakin malas membaca. Data yang ada juga bisa berarti, para pembaca dewasa sedang melebarkan selera buku ke kisah-kisah remaja romantis seperti The Fault in Our Star atau cerita-cerita lainnya karya John Green.

Itu bukan fenomena baru. Survei Bowker Market Research tahun 2012 menemukan, 55 persen novel remaja dewasa dibeli oleh orang dewasa. Sekitar 28 persen di antaranya, berusia 33 sampai 44 tahun.

Association of American Publishers memang tidak mendata siapa saja subjek di peningkatan penjualan buku tahun ini. Mereka justru mengunggah fakta lain yang juga menyebut peningkatan di unduhan buku elektronik. Penjualan buku elektronik anak dan remaja dewasa naik 52,7 persen di sembilan bulan pertama tahun 2014.

Namun, studi Nielsen bulan ini menemukan bahwa hanya sedikit uang yang dibelanjakan para remaja untuk buku elektronik. Meski mereka amat kecanduan gadget, uang yang dikeluarkan untuk membeli buku elektronik hanya US$ 20 atau Rp 254 ribu. Buku cetak konvensional masih lebih disukai.

sumber: cnnindonesia.com