Get Adobe Flash player

Cari Artikel

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday532
mod_vvisit_counterThis week1185
mod_vvisit_counterThis month10598
mod_vvisit_counterAll373369

Your IP: 54.146.176.30
Now: 2017-02-20 22:36

YOGYA - Walaupun memiliki ‘Indeks Baca’ tertinggi di Indonesia dengan nilai 0,09, tetapi minat baca masyarakat Yogyakarta masih sangat memprihatinkan jika dibanding dengan indeks baca negara maju yang telah mencapai 0,45.

Hal tersebut diungkapkan kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY Budi Wibowo, saat membuka acara ‘Jogja Membaca’ di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (20/12/2014).

“Nilai indeks baca 0,09 berarti setiap 1000 masyarakat Yogykarta hanya 1 orang yang membaca buku, tentu jumlah tersebut masih sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan negara maju yang dari setiap 1000 orang terdapat 450 orang yang membaca buku. Sedangkan untuk rataan indeks baca Indonesia secara keseluruhan lebih memprihatinkan lagi, hanya 0,01,” ungkap Budi Wibowo.

Karena hal tersebut, perlu kerja keras semua pihak untuk terus mendorong minat baca masyarakat.  Budi Wibowo sangat mengapresiasi penyelenggaraan acara Jogja Membaca yang digagas oleh ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan DIY.

Jogja Membaca sendiri adalah sebuah acara tahunan yang sengaja diselenggarkan untuk meningkatkan ‘minat baca’ masyarakat Yogyakarta. Ketua Panitia Jogja Membaca 2014, Muhammad Wahyudin Rizal mengatakan, acara tersebut merupakan acara tahunan dan untuk tahun gelaran yang keempat kalinya.

“Untuk tahun ini kami mengangakt tema Merangakai Jogja Dengan Membaca. Dengan tema tersebut kami berharap Yogyakarta yang sangat kaya akan budaya, keragaman masyarakatnya, sumber daya alam, dapat dipelajari oleh masyarakat dengan membaca,” ujar Rizal.

ALUS Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan DIY yang sebagian besar anggotanya adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut menyiapkan beragam acara dalam gelaran Jogja Membaca.

Orasi baca, pembacaan puisi, books giving party, wakaf buku adalah beberapa rangkaian acara yang digelar.

Selain itu, panitia juga menyediakan empat rak buku di kawasan nol kilometer dan dapat diakses oleh masyarakat yang ada di kawasan tersebut. “Kami juga membagikan sekitar 100 buku kepada masyarakat, dan kami menggalang pengumpulan buku dengan gerakan wakaf buku,” tambah Rizal.

Dengan beragam kegiatan tersebut ALUS berharap dapat mendekatkan fasilitas sumber belajar, dalam hal ini perpustakaan kepada masyarakat untuk lebih memudahkan dalam mengakses informasi. Lebih lanjut acara tersebut juga diharapkan mampu memantapkan citra Yogyakarta sebagai kota Pendidikan.

Ditambahkan Budi Wibowo, dirinya berharap agar kegiatn sejenis dapat semakin banyak dilakukan, dan untuk acara Jogja Membaca dapat lebih besar lagi kedepannya.

“Tidak ada cara lain bagi sebuah Negara yang ingin menjadi Negara maju, kecuali masyarakatnya memiliki budaya membaca. Saya meyakini kemiskinan hanya dapat diatasi jika masyarakatnya membaca,” ujarnya.

Untuk lebih menumbuh kembangkan minat baca di kalangan remaja dan pelajar, BPAD DIY memiliki bebrapa strategi dan salah satunya adalah digitalisasi buku. Untuk tahun 2014 proses tersebut relatif masih kecil karena baru mampu mendigitalkan 3000 halaman buku. Untuk tahun 2015 BPAD berharap mampu mendigitalkan 1000 buku.

“Kedepannya kami berharap masyarkat bisa membaca buku melalui hanphone maupun tablet yang setiap hari mereka bawa. Dengan begitu, minat baca masyarakat Yogyakarta akan meningkat,” pungkas Budi Wibowo.

Sumber: tribunnews.com