Hari Aksara Sedunia: Indonesia, Apa Terobosanmu?

hari aksara internasional

Jakarta, BPADJAKARTA.NET – Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 8 September, adalah Hari Aksara Sedunia yang ke-45, yang disepakati berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-negara Anggota PBB pada tanggal 17 November 1965 di Teheran, Iran. UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) kemudian menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy Day). Hari Aksara ini tentunya diperingati dengan tujuan agar umat manusia sedunia “melek aksara” alias melek baca dan tulis dan akhirnya melek ilmu.

Jika dalam dekade 2003-2013, dunia memfokuskan Hari Aksara sebagai ajang pemberantasan buta huruf di dunia, Hari Aksara kali ini lebih difokuskan kepada bagaimana caranya agar aksara menjadi komoditas pembangunan sosial ekonomi yang dapat berguna bagi kehidupan orang banyak. Melihat target yang seperti ini, kita dapat menyimpulkan bahwa UNESCO telah meningkatkan standar ke-melek aksara-an masyarakat dari yang buta aksara, kini telah dianggap melek aksara. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Pada awal pemerintahannya, Presiden SBY menargetkan 95 persen penduduk Indonesia pada 2009 sudah melek aksara. Ini berarti pemerintah harus segera melakukan terobosan kebijakan agar buta aksara yang masih mendera segera mangkat, pergi dengan cepat. Sebab, buta aksara sangat berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia (HDI). Tinggi-rendahnya buta aksara akan menjadi penentu utama tinggi-rendahnya kualitas pembangunan manusia Indonesia.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), jumlah penduduk buta aksara di Indonesia saat ini tinggal 10,1 juta orang. Angka itu turun 1,7 juta orang jika dibandingkan dengan tahun 2007 yang tercacat 11,8 juta orang. Pada akhir 2009, jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas ditargetkan tinggal 7,7 juta orang. Kalau memang benar, data yang disuguhkan Depdiknas tersebut cukup memberikan aplaus bagi pemerintah. Data itu memberikan harapan akan optimisme merealisasikan pemberantasan buta aksara secara maksimal.

Dalam rangka merealisasikan pemberantasan buta aksara, pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak melakukan kerja sosial yang strategis, sistematis, dan berkelanjutan. Pertama, membongkar kesadaran semu ihwal belajar. Kedua, memaksimalkan kerja sama dengan perguruan tinggi negeri dan swasta dalam upaya gerakan masif pemberantasan buta aksara yang bisa dilakukan lewat program kuliah kerja nyata (KKN) yang langsung masuk dalam jantung tradisi masyarakat. Ketiga, program itu diintegrasikan dengan program pemerintah lainnya. Dalam konteks sekarang, maksimalisasi pemberantasan buta aksara bisa dilanjutkan lewat anggaran pendidikan 20 persen. Anggaran 20 persen dari total APBN dapat dijadikan modal berharga dalam menciptakan masyarakat yang melek aksara.

Demi masa depan bangsa, buta aksara harus kita berantas. Melek aksara adalah bagian penting pemenuhan hak asasi manusia (HAM). Peringatan Hari Aksara Sedunia menjadi catatan penting bagi Indonesia untuk terus berbenah menyongsong mimpi visi Indonesia 2030 yang maju dan berkeadaban.

Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.
Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta
JL. Perintis Kemerdekaan No.1, Pulogadung, Jakarta Timur, 13260
Telp: (021) 47860095, Fax: (021) 47865922, Email: bpad@bpadjakarta.net
Hak Cipta © 2012 Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dilindungi oleh Undang-undang
n